Menu Content/Inhalt



 
Melestarikan Keroncong dari Tempat Mewah
Tuesday, 08 December 2009

 http://gnpmusic.co.id/gnp/images/stories/Thenews/Kompas.JPG

JAKARTA, KOMPAS.com--Keluarga besar FKIP Unair (IKIP Malang) pada Kamis malam (3/12) menggelar Malam Pelestarian Keroncong di Ballroom Gran Melia Hotel, Jakarta.

Acara ini oleh penyelenggara memang dimaksudkan sebagai gerakan pelestarian seni budaya Indonesia. Maklumlah, sejak sekira tiga dasarwasa ini, musik keroncong memang terdengar samar lantaran penikmat musik kita dibanjiri musik pop, rock, dan dangdut. Walhasil, keroncong, sebagaimana yang juga terjadi pada kesenian tradisional, seperti mati enggan hidup tak mau.

Untuk itulah, Keluarga Besar FKIP Unair melakukan berbagai upaya untuk mengangkat kembali martabat musik keroncong agar digemari kembali oleh segala lapisan masyarakat. "Untuk menghargai dan menyayangi musik keroncong sebaiknya kita memperkenalkannya mulai dari masa kanak-kanak, dengan bantuan orang tua untuk memberikan asupan makanan musik dengan cara mengajarkan untuk mendengarkan dan menikmati musik keroncong," ungkap Elly Tjan, Ketua Panitia acara ini.

Hal ini juga ditegaslan oleh Ketua Keluarga Besar IKA IKIP UNAIR-IKIP MALANG, F. Purwono, yang mengatakan, acara ini merupakan ujud kepedulian terhadap kondisi musik keroncong dewasa ini. Oleh karena itu, paguyuban ini merasa terpanggil untuk turut menumbuh-kembangkan minat dan kesadaran serta apresiasi di kalangan komunitas keroncong, untuk memelihara, menjaga, menyelamatkan, mengembangkan dan melestarikan musik keroncong.

Acara yang dihadiri oleh beberapa wakil dari beberapa negara seperti Portugal, Jepang, China dan Belanda, ini, dibuka dengan acara santap malam dengan iringan Kerlompok Keroncong Jawara. Pada acara tersebut, juga diserahkan sejumlah dana kepada maestro Keroncong Gesang, sebagai simbol penghargaan dan apresiasi yang tinggi kepada pelopor keroncong yang kini telah lanjut usia itu.

Selanjutnya, kelompok Paduan Suara Anak Indonesia pimpinan Aida Swenson Simanjuntak, menghibur yang hadir dengan lagu "Kupu-kupu" ciptaan Ibu Sud, "Tanah Airku Indonesia" (Ibu Sud), dan "Di Timur Matahari" (WR Supratman).

Selajutnya, Keroncong Jawara muncul kembali dengan lagu-lagu keroncong sepeerti "Yen ing Tawang Ono Lintang", "Bandar Jakarta", "Es Lilin", Kr. Moresko (syair Kusbini), hingga lagu legendaris karya Gesang "Bengawan Solo".

Usai Keroncong Jawara, panggung dikendalikan oleh kelompok Keroncong Tugu. Dahulu, kelompok yang berasal dari daerah Jakarta Utara ini adalah salah satu cikal bakal musik keroncong di Tanah Air.

Kelompok keroncong pimpinan Guido ini langsung mengusung lagu "Sarinah", "Burung Seriti", "Pasar Gambir", "Schoon ver van Jou", hingga "Oud Batavia".

Selain dua kelompok keroncong tersebut, acara juga diisi oleh Didik Nini Thowok dan Hendrik yang membawakan nomor tari berjudul "Japindo" dan tarian "Walang Kekek". Lawak Gareng menjadi penyegar acara yang berlangsung di tempat mewah itu.

Sebelum undangan pulang, Keroncong Jawara tampil kembali dengan lagu "Sepasang Mata Bola", "Kulihat Ibu Pertiwi", "Di Bawah Sinar Bulan Purnama", "Bunga Anggrek" dan "Dewi Murni".

 

 

 

 
 
 

 

 


 

Copyright © 2010 Gema Nada Pertiwi, PT.

Jl. Kebon Jeruk XV / 13 Maphar - Taman Sari Jakarta Indonesia 11160