|
10 Maret 2009 Java Jazz Festival Telah Berakhir |
|
Wednesday, 22 April 2009 |
| SETELAH bertahun-tahun, akhirnya world music, gerakan yang menyajikan tema musik dari berbagai bangsa dalam kolaborasi, akhirnya dapat tempat di Java Jazz Festival (JJF) 2009 yang berakhir Minggu (9/3) dini hari di Jakarta Convention Center (JCC). Itu terbukti lewat penampilan Gamelan Shockbreaker (Norwegia), Javanova and the Sol Project (Indonesia), serta Soil and Pims (Jepang). | | Ketiganya lari dari tradisi yang tak lazim dalam tatanan jazz. Di panggung Soil and Pimp membakar semangat penonton dengan komposisi ''the death jazz''. Ketiganya lari dari tradisi yang tak lazim dalam tatanan jazz. Di panggung Soil and Pimp membakar semangat penonton dengan komposisi ''the death jazz''. | | Permainan Tabu Zombie (trumpet) dan Motoharu (saksofon) fasih menjelajahi wilayah improvisasi jazz yang membuat penonton merasa ''luar biasa''. Saat Soil and Pims menggeber, tontonan JJF makin menggairahkan dan jadi sajian penutup yang eksotik. | |  |  | | Pesinden Di panggung lain, gamelan Shockbreaker mempertemukan budaya Barat dan Timur dalam intensitas penuh warna dan amat melodius. Itulah paduan musik klasik Eropa dan tradisi Sunda. Orkestra yang mengolaborasikan gamelan Sunda dan rhythm Barat itu memesona. Apalagi dengan penampilan dua pesinden Sunda, Tita Tila dan Euis Komariah. Itulah puncak kesempurnaan festival musik yang tak cuma menampilkan jazz, tetapi genre lain juga. | | . Pertemuan dua kultur itu dilakukan Ismet Ruchimat dan Patrick Shaw. Orkestra itu menampilkan 10 penabuh gamelan Sunda dengan dua penyanyi tradisional. Patrick Shaw (flute) dan Peter Baden (drum elektronik) memberi sentuhan klasik Eropa. Ismet (bonang) dan para pengrawit menjaga rhythm Sunda di hampir setiap kompisisi. (dikutip dari Suara Merdeka Edisi Cetak) |
|